Beranda | Artikel
Wafat Sebelum Membayar Kaffarat Jimak di Bulan Ramadan
10 jam lalu

Hukum dan kaffarat orang yang berjimak di siang hari bulan Ramadan

Bukan lagi menjadi hal yang tabu terkait hukum jimak (berhubungan suami istri) di bulan Ramadan. Selain puasanya batal, seseorang yang melakukan hubungan suami istri di siang hari bulan Ramadan wajib untuk mengqadha puasanya dan sekaligus membayar kaffarat. Pendapat ini merupakan pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Sebagaimana yang dinukil oleh Al-Imam Ibnu Rusyd dalam Bidaayatul Mujtahid. [1]

Sehingga, seseorang yang berjimak di siang hari bulan Ramadan setidaknya terkena tiga konsekuensi [2]:

– Puasanya batal;
– Mengqadha puasanya;
– Membayar kaffarat.

Jumhur ulama berdalil dengan hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

بينَما نَحنُ جُلوسٌ عِندَ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم إذ جاءَه رَجُلٌ فقال: يا رَسولَ اللهِ، هَلَكتُ. قال: ما لَكَ؟ قال: وقَعتُ على امرَأتي وأنا صائِمٌ، فقال رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم: هل تَجِدُ رَقَبةً تُعتِقُها؟ قال: لا، قال: فهل تَستَطيعُ أن تَصومَ شَهرَينِ مُتَتابِعَينِ، قال: لا، فقال: فهل تَجِدُ إطعامَ سِتِّينَ مِسكينًا. قال: لا، قال: فمَكَثَ النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، فبينا نَحنُ على ذلك أُتيَ النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم بعَرَقٍ فيها تَمرٌ -والعَرَقُ المِكتَلُ- قال: أينَ السَّائِلُ؟ فقال: أنا، قال: خُذْها، فتَصَدَّقْ به، فقال الرَّجُلُ: أعَلى أفقَرَ مِنِّي يا رَسولَ اللهِ؟ فواللهِ ما بينَ لابَتَيها -يُريدُ الحَرَّتَينِ- أهلُ بَيتٍ أفقَرُ مِن أهلِ بَيتي، فضَحِكَ النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم حتَّى بَدَت أنيابُه، ثُمَّ قال: أطعِمْه أهلَكَ

“Ketika kami sedang duduk bersama Nabi ﷺ, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki, lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, celakalah aku!’ Beliau bertanya, ‘Apa yang terjadi padamu?’ Ia menjawab, ‘Aku berhubungan badan dengan istriku, padahal aku sedang berpuasa.’ Rasulullah ﷺ bertanya, ‘Apakah engkau memiliki seorang budak untuk dimerdekakan?’ Ia menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau mampu berpuasa selama dua bulan berturut-turut?’ Ia menjawab, ‘Tidak.’ Beliau bertanya lagi, ‘Apakah engkau memiliki makanan untuk memberi makan enam puluh orang miskin?’ Ia menjawab, ‘Tidak.’

Lalu Nabi ﷺ diam sejenak. Ketika kami dalam kondisi seperti itu, Nabi ﷺ dibawakan sebuah ’araq berisi kurma —’araq adalah keranjang besar. Beliau bertanya, ‘Mana orang yang bertanya tadi?’ Laki-laki itu menjawab, ‘Saya.’ Beliau bersabda, ‘Ambillah ini dan bersedekahlah dengannya.’ Laki-laki itu bertanya, ‘Apakah kepada orang yang lebih miskin dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada di antara dua bukit berbatu (di Madinah) ini keluarga yang lebih miskin daripada keluargaku.’ Nabi ﷺ pun tertawa hingga terlihat gigi taringnya, kemudian beliau bersabda, ‘Berikanlah makan keluargamu (dengan kurma ini).`” (Muttafaqun ‘alaih)

Dalil di atas adalah dalil yang jelas terkait dengan hukum dan kaffarat orang yang berjimak di siang hari bulan Ramadan. Kendati sebagian dari para ulama berselisih terkait permasalahan, “Apakah wajib mengqadha puasanya atau tidak.”

Di antara yang berpendapat tidak wajib qadha adalah sebagian dari pendapat mazhab Syafi’i. Mereka berpandangan tidak adanya dalil kuat yang menunjukkan akan wajibnya mengqadha puasa bagi orang yang berjimak di siang hari bulan Ramadan. Namun dihukumi oleh Al-Imam Ibnu Rusyd rahimahullah bahwa pendapat ini adalah pendapat yang menyelisihi jumhur ulama. [3]

Begitu pula Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah, beliau berpendapat tidak wajib mengqadha puasa selain pada orang yang sengaja muntah.

أَنَّ وُجُوبَ الْقَضَاءِ فِي تَعَمُّدِ الْقَيْءِ قَدْ صَحَّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَمَا ذَكَرْنَا قَبْلَ هَذِهِ الْمَسْأَلَةِ بِمَسْأَلَتَيْنِ؛ وَلَمْ يَأْتِ فِي فَسَادِ الصَّوْمِ بِالتَّعَمُّدِ لِلْأَكْلِ أَوْ الشُّرْبِ أَوْ الْوَطْءِ: نَصٌّ بِإِيجَابِ الْقَضَاءِ

“Bahwasanya wajib mengqadha (mengganti puasa) bagi orang yang sengaja muntah telah sah ketetapannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, -sebagaimana yang kami telah sebutkan pada dua masalah sebelum pembahasan ini-. Namun, mengenai batalnya puasa karena sengaja makan, minum, ataupun berhubungan suami istri, tidak ada nash (dalil) yang mewajibkan qadha.” [4]

Kami sebutkan hal ini sebagai maklumat akan adanya perselisihan di kalangan para ulama tentang wajib mengqadha puasa atau tidaknya. Dalam hal ini, pendapat jumhur ulama dengan mengqadha puasa lebih dekat kepada dalil.

Terlepas dari pembahasan di atas, para ulama sepakat akan wajibnya membayar kaffarat. Bahkan disebutkan bahwasanya para ulama empat mazhab bersepakat akan wajibnya membayar kaffarat berdasarkan hadis Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas.

Bagaimana jika seseorang wafat terlebih dahulu sebelum membayar kaffarat? 

Yang perlu diketahui terlebih dahulu, bahwasanya kaffarat tidaklah gugur dengan wafatnya seseorang. Ia tetap menjadi utang yang harus ditunaikan dan wajib untuk dibayarkan. Terlebih kaffarat dalam hal ini berkaitan dengan utang kepada Allah Ta’ala, sehingga utang tersebut harus diselesaikan serta ditunaikan.

Sebagaimana dalam hadis ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, tatkala ada seorang wanita yang menanyakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam perihal ibunya yang wafat dan meninggalkan utang puasa. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

فَقالَ: أَرَأَيْتِ لو كانَ عَلَيْهَا دَيْنٌ أَكُنْتِ تَقْضِينَهُ؟ قالَتْ: نَعَمْ، قالَ: فَدَيْنُ اللهِ أَحَقُّ بالقَضَاءِ

“Beliau bersabda, tidakkah engkau melihat jika ibumu memiliki utang, bukankah engkau bantu untuk melunasinya? Wanita tersebut berkata, ‘Iya.’ Beliau bersabda, ‘Maka utang kepada Allah lebih berhak untuk dilunasi.” (Muttafaqun ‘alaih)

Siapakah yang membayar utang kaffarat?

Dalam hal ini, yang membayarkan adalah walinya. Berdasarkan hadis ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Barangsiapa yang wafat, sedangkan ia memiliki utang puasa, maka walinya-lah yang (menggantikan) puasanya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Maksud dari wali di sini adalah ahli waris mayit. [5] Sehingga, ahli warislah yang berhak untuk membayarkan utang kaffarat dari mayit, bukan yang lainnya.

Bagaimana cara menunaikan utang kaffarat?

Sebelum berbicara tentang menunaikan utang kaffarat, perlu diketahui bahwasanya dalam membayar kaffarat itu diharuskan membayarnya secara berurut dan bukan berdasarkan pilihan.

Jika dilihat, dalam kaffarat jimak di siang hari bulan Ramadan ada beberapa kategori:

– Memerdekakan budak;
– Berpuasa dua bulan berturut-turut;
– Memberi makan enam puluh orang miskin.

Dalam hal ini, jumhur ulama berpendapat wajib membayar kaffarat secara berurut-turut. [6] Artinya, dimulai terlebih dahulu dari memerdekakan budak; jika tidak mampu, maka berpuasa dua bulan berturut-turut; jika tidak mampu, maka memberi makan enam puluh orang miskin.

Sehingga cara menunaikannya adalah dengan berurutan, dalam hal ini tidak bisa bebas memilih sebelum benar-benar yakin hal tersebut tidak mampu untuk dilakukan.

Setelah mengetahui bahwasanya bayar kaffarat wajib berurutan, maka selanjutnya wali dari mayit membayarkan sesuai dengan kategori yang ia mampu untuk mengerjakannya.

Jika ia mampu, maka boleh baginya untuk berpusa dua bulan berturut-turut sekaligus dengan mengqadha puasa yang ia batalkan dengan sebab jimak. Dengan cara cukup satu orang dari walinya yang berpuasa. Demikian pendapat dari Syekh Al-Utsaimin rahimahullah. [7] Dikarenakan syarat dari penunaian puasa tersebut harus dua bulan berturut-turut. Dari sini, tidak diperbolehkan jika ada beberapa wali mayit yang bersepakat untuk bergantian menggantikan puasanya.

Jika memang para wali atau ahli waris tidak mampu untuk menggantikan puasanya dua bulan berturut-turut, maka boleh untuk pindah ke kategori setelahnya. Yaitu, memberi makan enam puluh orang miskin.

Sebaiknya, sebelum pembagian harta waris, ahli waris memisahkan terlebih dahulu harta mayit untuk pembayaran utang. Baik utang kepada Allah Ta’ala ataupun utang kepada sesama manusia. Utang kepada Allah seperti pembayaran kaffarat misalnya, inilah yang harus didahulukan sebelum pembagian waris.

Oleh karena itu, memberi makan enam puluh orang miskin baiknya ditunaikan dengan menggunakan harta mayit. Jika memang harta mayit tidak ada untuk membayarnya, maka diperbolehkan bagi ahli waris untuk memberi makan enam puluh orang miskin. [8]

Wallahu a’lam.

***

Depok, 14 Ramadan 1447H / 3 Maret 2026

Penulis: Muhammad Zia Abdurrofi

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

[1] Bidaayatul Mujtahid, 2: 587.

[2] Pembahasan ini bisa dilihat di kitab Shahih Fiqih Sunnah, 2: 107.

[3] Al-Jadaawil Al-Fiqhiyyah lil Masaa’il Al-Khilaafiyah fi Kitabi Bidaayatil Mujtahid, hal. 636.

[4] Al-Muhalla bil Atsar, Masalah 735, 4: 308.

[5] Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, 6: 451-452.

[6] Al-Jadaawil Al-Fiqhiyyah lil Masaa’il Al-Khilaafiyah fi Kitabi Bidaayatil Mujtahid, hal. 641; Fiqhus Sunnah, 1: 346; dan Shahih Fiqih Sunnah, 2: 109.

[7] Asy-Syarhul Mumti’ ‘ala Zaadil Mustaqni’, 6: 452-453.

[8] https://islamqa.info/ar/answers/131660

Referensi:

– Al-Muthiri, ‘Abdurrahman bin Hamud. Fiqh al-Mu‘āmalāt al-Māliyah al-Muyassarah. Cetakan ke-3. Kuwait: Maktabah Imam Adz-Dzahabi, 2018.

– Al-Musayqih, Khalid bin ‘Ali. Syarḥ Ar-Raudh al-Murbi‘. Jilid 6. Cetakan ke-1. Riyadh: Dar Rakaiz, 2022.

– Ibn Qudamah, Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ahmad. Al-Mughni. Jilid 4. Cetakan ke-1. Mesir: Maktabah Al-Qahirah, 1388 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).

– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 5 (Kasyf al-Akinnah). Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.

– Al-Baihaqi, Abu Bakr Ahmad bin ‘Ali. As-Sunan al-Kubra. Jilid 5. Cetakan ke-3. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1424 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).

– An-Nawawi, Abu Zakariya Yahya bin Syaraf. Al-Majmu‘ Syarh al-Muhadzdzab. Jilid 9. Mesir: Idarah ath-Thiba‘ah al-Minbariyyah, 1344 H. (Diakses melalui Maktabah Syamilah).

– Al-Imam Abul Walid Muhammad bin Ahmad Ibnu Rusyd Al-Qurtubi, Tahqiq: Majid Al-Hamwi, Cetakan 1, Dar Ibnu Hazm Jilid 2, 1416 H.

– Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim. Shahih Fiqih Sunnah. Jilid 2 .Cetakan ke-2. Mesir: Maktabah At-Taufiqiyyah, 2016.

– Al-Imam Ibnu Hazm Al-Andalusi, Al-Muhalla bil Atsar, Tahqiq: Dr. Abdul Ghaffar Sulaiman Al-Bandari. Cet. Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah beirut 1408 H. Jilid 4 (Diakses melalui Maktabah Syamilah).

– Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Asy-Syarhul Mumti’ ‘alaa Zaadil Mustaqni’, Dar Ibnul Jauzi, cet.1 th.1422H. Jilid 6 (Diakses melalui Maktabah Syamilah).

Al-Jadaawil Al-Fiqhiyyah lil Masaa’il Al-Khilaafiyah fi Kitabi Bidaayatil Mujtahid, Prof. Dr. Dzahir bin Fakhri Adz-Dzohir, th. 1446 H.


Artikel asli: https://muslim.or.id/113026-wafat-sebelum-membayar-kaffarat-jima-di-bulan-ramadan.html